
Ruteng, unikastpaulus.ac.id – Konferensi Internasional ICAGROLIVE 2025 berhasil menyita perhatian peserta konferensi oleh Assoc. Prof. Ts. Dr. Shamsiah Abdullah dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia.
Konferensi Internasional the first ICAGROLIVE 2025 yang diselenggarakan oleh FPP FT Unika St. Paulus Ruteng kini memasuki hari terakhir.
pada hari ke dua konferensi internasional ini, Prof. Shamsiah dari Malaysia mampu menggiring perserta konferensi untuk berpikir lebih jauh tentang masa depan pertanian berkelanjutan.
Baca Juga: Unika St. Paulus Dorong Kolaborasi Global Hadapi Krisis Lingkungan Lewat Konferensi ICAGROLIVE 2025
Dalam pemaparan materinya pada hari kedua konferensi internasional ICAGROLIVE 2025 itu (5/6/2025) Prof. Shamsiah berhasil mendapatkan perhatian peserta konferensi saat membahas tentang mutasi genetik tanaman jadi solusi masa depan pertanian berkelannjutan.
Ia menyoroti bagaimana mutasi pemuliaan (mutation breeding) memainkan peran strategis dalam mempercepat pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim dan penyakit.
Mutasi untuk Diversifikasi Genetik dan Ketahanan Iklim
Dalam presentasinya, Prof. Shamsiah menjelaskan bahwa mutasi pemuliaan melibatkan induksi perubahan genetik secara sengaja, menggunakan sinar gamma, bahan kimia seperti EMS, atau teknologi modern seperti TILLING.
Baca Juga: Dekan FPP Unika Ruteng Sampaikan Pesan Inspiratif dalam Yudisium Semester Ganjil TA 2024-2025
Teknik ini berhasil menghasilkan ribuan varietas baru secara global yang menunjukkan peningkatan hasil panen, ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik, serta kualitas gizi yang lebih baik.
“Teknologi ini tidak hanya mempercepat pengembangan varietas unggul, tetapi juga memperkuat ketahanan terhadap iklim ekstrem,” ungkapnya.
Kasus Sukses: Varietas Padi Mutan
Salah satu contoh konkret yang dipaparkan adalah pengembangan padi mutan yang tahan banjir dan kekeringan.
Varietas ini telah melewati uji lapang dan diterima petani karena hasilnya yang stabil. Hal ini menandakan bahwa mutasi pemuliaan mampu menjawab tantangan pertanian tropis seperti yang dihadapi di Indonesia.
Masa Depan Pemuliaan: Kolaborasi dan Akses Data Terbuka
Prof. Shamsiah juga mendorong penguatan kolaborasi lintas negara dan penyediaan platform data terbuka untuk mempercepat penelitian dan pengembangan.
Baca Juga: FPP Unika St. Paulus Ruteng Gelar Bina Desa di Poco Likang, Dorong Pertanian Berkelanjutan
Menurutnya, masa depan pertanian berkelanjutan bergantung pada komitmen semua pihak terhadap inovasi ilmiah yang aman dan inklusif.
Mutasi pemuliaan membuka peluang besar bagi transformasi sektor pertanian, khususnya dalam konteks ketahanan pangan, pengurangan input kimia, dan adaptasi terhadap iklim.
ICAGROLIVE 2025 berhasil menyoroti pentingnya pendekatan ilmiah ini sebagai bagian dari strategi global menuju pertanian berkelanjutan.
Penulis Berita: Selvianus Hadun